Hidup Nyaman dalam Terarium
Artikel tentang Terarium di blog Kado Sahabat ini ternyata cukup menarik banyak komentar Sahabat. Tapi taukah Sahabat kalau terarium itu bukan hanya diperuntukkan untuk kaktus atau tanaman-tanaman mini lainnya? Melainkan bisa juga untuk kura-kura?! Simak artikel dari Trubus-Online berikut ini.
Selain sepotong kayu bakau, rawa kecil itu hanya dipenuhi air. Di sana, sepasang Chelus fimbriatus menghabiskan waktu dengan berendam. Suasana habitat asli chelus di Amerika Latin itu tampak pada terarium kura-kura berukuran 60 cm x 40 cm x 30 cm. Lampu UV berdaya 60 watt membuat suhu permukaan air stabil pada 31oC. Potongan kayu bakau menstabilkan pH air pada 5-6.
Imitasi habitat kura-kura air asal Sungai Amazon di Brazil itu jadi ornamen di sudut kamar tidur Budi Dewanto. Kolektor berbagai jenis reptil itu leluasa memandangi polah klangenannya setiap saat, bahkan setelah bangun tidur. Reptil berkarapas itu hidup nyaman lantaran habitat tiruan yang diciptakannya begitu lengkap.
Agar suhu air mencapai 27-31oC seperti di asalnya, sebuah alat pemanas. Tak lupa sebuah lampu UV berkekuatan 60 watt dipasang pada jarak 40 cm dari permukaan air. Lampu berfungsi menggantikan sinar matahari sehingga chelus tetap mendapat sinar ultraviolet saat berjemur. Tanpa itu, karapasnya akan melunak lantaran asupan kalsium tidak dapat diubah menjadi vitamin D. Ujung-ujungnya, penyakit akan datang.
Bongkahan kayu bakau bukan sekadar pemanis terarium. Selain bertugas menjadi penstabil pH, bongkahan kayu sepanjang 20 cm itu memecah aliran air yang menyembur dari aerator. ‘Kucuran air perlu dipecah oleh kayu supaya kemampuan kura-kura mendeteksi mangsa lewat selaput di bawah lipatan kulitnya tidak terganggu,’ kata alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu.
TerariumTerarium kura-kura sebenarnya bukan barang baru. Ia hadir untuk menyederhanakan sistem pemeliharaan kura-kura akuatik yang dianggap rumit. Maklum, selama ini perawatan kura-kura tak lepas dari kolam semen, pompa air, dan sistem filter. Itu seperti memelihara koi. Padahal sebagai satwa future pet (peliharaan masa depan, red), sedapat mungkin ia bisa ditaruh di ruang pribadi, bahkan dipindah-pindah tergantung selera pemilik.
Berbeda dengan Budi, Rocky Kiswanto Suharyadi-hobiis di Tomang, Jakarta Barat-berpendapat, syarat minimal agar kura-kura air hidup nyaman hanya lampu, pemanas, dan filter. Bahkan, kehadiran lampu UV dapat diabaikan asal, ‘Si pemilik mau menjemur kura-kuranya selama ½ jam setiap 1-2 hari sekali,’ kata kolektor yang memiliki 4 lusin kura-kura itu.
Filterisasi berguna untuk menyaring kotoran sekaligus membuang racun amonia. Berdasarkan pengalamannya tanpa filter air terarium keruh dalam tempo 1-2 hari. Jika itu dibiarkan, cendawan datang menginfeksi saluran pernapasan. ‘Cara lain dengan mengganti air tidak efektif, dapat memicu kura-kura stres,’ tutur kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, itu.
BaskomTerarium tak melulu harus berbentuk kotak kaca. Baskom, misalnya, dapat dipakai tanpa mengurangi kenyamanan. Untuk memelihara diamond back terrapins Malaclemys terrapin, Budi menyediakan baskom kaca berdiameter 30 cm dengan tinggi 10 cm. Kura-kura air asal Texas, Amerika Serikat, itu bahkan suka berjemur di atas jembatan yang diletakkan pria lajang berusia 31 tahun itu di dalamnya.
Supaya air tak perlu diganti setiap saat, ia meletakkan pompa sekaligus filter seukuran 2 kotak korek api. Posisinya tepat di bawah jembatan. Filter diberi kapas dan arang aktif sebagai penyaring. Filter perlu dibersihkan 3 hari sekali, sedangkan air diganti setiap minggu. ‘Pasir kuarsa bisa dipakai di dasar baskom untuk membantu filterisasi,’ kata hobiis reptil sejak 1997 itu. Bahan itu efektif menjerat amonia dari sisa-sisa pakan dan kotoran.
Usai mengganti air, Budi tak pernah alpa menaburkan segenggam garam ikan. Gunanya, menggantikan mineral yang dilepaskan kura-kura saat stres selama proses pergantian air. Manfaat lain, memberangus parasit yang bercokol di tubuh kura-kura. ‘Garam kasar tanpa yodium dari pasar tradisional dapat dipakai sebagai pengganti,’ ujarnya.
Penambahan ornamen memang membuat terarium lebih semarak. Contohnya pasir. Karena kura-kura suka berjalan di dasar, pasir dapat menjadi tempat pijakan yang mantap. Namun, tidak semua pasir dapat dipakai. Kecuali pasir silika, pasir lainnya seperti pasir bali dan pasir malang perlu dihindari karena keduanya mengacaukan pH sehingga air jadi lebih asam.
Batu juga dapat dipakai sebagai pemanis. ‘Untuk batu, saya memakai batu timor dari Nusa Tenggara Timur karena tampak eksotis,’ kata Rocky. Bungsu dari 5 bersaudara itu bahkan menambah tanaman plastik untuk menciptakan suasana alami di terarium. Kini baik Rocky maupun Budi Dewanto benar-benar sudah terjerat keindahan terarium kura-kura. (A. Arie Raharjo/Peliput: Kiki Rizkika)

Trims utk infonya yg berguna buat saya. Saya msh pemula dalam memelihara 3 anak kura- kura yang saya letakkan di kolam semen dengan filter dan makanan ikan yang diberikan 2x sehari tiap 12 jam. Masalah yang saya temui adalah salah satu anak kura2 saya yang sebut saja kura2 A,tidak mau makan, meskipun sdh saya tumbuk halus. Kura2 A lebih suka berdiam diatas batu semen yg saya letakkan di kolam, seharian tidak turun ke kolam dan tidak makan, hanya tidur saja. Apa yang sedang dialami kura2 A? Apakah ia sakit? Atau tidak suka makanan tsb? Bgm cara mengatasinya? Karena saya perhatikan tubuhnya yg tampak di sisi kepala sudah mulai
cekung. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
melly.
Nopember 18th, 2008 at 6:20 pm